Cerpen "Nasehat Sang Nenek" - SR Tatiya Pen

 

"Nasehat Sang Nenek" 

oleh : SR Tatiya Pen


Pagi yang cerah di hiasi dengan burung-burung yang beterbangan kesana kemari sambil bernyanyi, matahari datang menyinari bumi, memberi kehangatan untuk gubuk kecil yang terletak jauh di dalam hutan.
Di gubuk itu tinggallah seorang nenek bernama Ida, dengan cucunya Linda. Sejak Linda kecil ia sudah tidak memiliki org tua, ayahnya meninggal saat ia berada di kandungan, sementara ibunya meninggal saat melahirkan Linda.
Dulu, nenek Ida tinggal di perdesaan namun terjadi bencana alam yang dahsyat, yaitu gempa bumi sehingga membuat para penduduk harus mencari tempat tinggal baru, sebagian penduduk memilih untuk mengungsi sampai bencana alam itu mereda. Kejadian itu memang sering terjadi di desa tempat tinggal nenek Ida, karena desa tersebut terletak dekat dengan pegunungan.
Itulah yang membuat nenek Ida berpikir untuk tinggal di hutan, jauh dari perdesaan, ia membangun sebuah gubuk kecil yang layak untuk di diami olehnya dan juga Linda.
Kala itu Linda kecil bermata indah nan lucu masih berumur 1 tahun. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, tak terasa Linda kecil sudah beranjak dewasa, gadis muda nan cantik itu sekarang sudah berumur 12 tahun.
Linda bersekolah di desa tempat tinggalnya dulu, dikarnakan Linda tinggal jauh di dalam hutan, Linda harus bangun lebih awal untuk berangkat ke sekolah agar tidak terlambat.
Sementara nenek Ida harus mencari kayu bakar dan menjualnya untuk menghidupi dirinya dan juga Linda.
Suatu hari saat Linda pulang sekolah ia mendapati neneknya sedang duduk membelah kayu yang berukuran panjang namun tidak terlalu besar, wanita paruh baya itu terlihat sangat serius dengan apa yang ia kerjakan, tangan kanannya memainkan parang dengan lihai. sementara tangan kirinya memegang kayu yg akan ia potong.
keringatnya berucuran membasahi dahi sehingga mengenai matanya, sesekali ia mengedipkan matanya untuk menghilangkan perih.
Linda yang melihat itu bergegas masuk ke dalam gubuk untuk mengambilkan kain
"Nenek!" panggilnya, saat ia berdiri tepat di samping sang nenek.
Sambil membawa sehelai kain panjang nan tipis yg dipenuhi, motif-motif batik ke arah sang nenek.
"0uh linda, ," ucap nenek itu ada sedikit terkekeh saat melihat kain yang di bawakan Linda. Untuknya, ‘Linda bawakan kain ini agar  untuk nenek, agar nenek dapat mengelap keringat nenek," ucapnya.
"Oh, Linda, terima kasih banyak, tapi mengapa kau membawakan kain batik itu? Inikan kai yang biasa nenek pakai untuk tidur," ucap nenek Ida.
"Maaf nek, Linda terburu-buru, habisnya kasian lihat nenek," ucap Linda menjelaskan sambil menyunggingkan senyum manisnya.
"Nenek mau Linda bantu?" tawarnya pada sang nenek.
"Tidak perlu, kau belajar saja sana, itu adalah tugasmu dan memotong kayu ini adalah tugas nenek," ucap nenek Ida lalu melanjutkan aktivitasnya.
Melihat itu Linda duduk agak menjauh dari sang nenek agar tidak mengganggu kenyamanan neneknya saat memotong kayu sambil memegang kain yang ia bawakan tadi.
"Linda," panggil nenek Ida sambil memotong kayu yang ia pegang.
"Ada apa nek? Ada yg bisa Linda bantu?" tanyanya.
"Tidak," jawab sang nenek, menggantungkan perkataannya.

“Lalu?” tanya Linda bingung, ia melihat sang nenek dengan tatapan penuh pertanyaan; sementara yg di lihat masih sibuk dengan apa yang dikerjakannya.
“Mengapa kau tidak belajar? Bukankah nenek meminta mu untuk belajar?” ucap nenek.
“Tidak mau,” balas Linda.
“Mengapa?” tanya nenek bingung.

“Linda tidak suka dengan gurunya,” ucap Linda, sambil memutar matanya, malas. Bukan malas akan pertanyaan sang nenek, tapi malas  saat tiba-tiba bayangan sang guru terlintas di benaknya, membayangkannya  saja malas, apa lagi melihatnya,” batin Linda.

“Apakah karna orangnya Linda tidak menyukai pelajarannya juga?” tanya nenek lembut pada cucunya.

Linda terdiam.
“Apa yang membuat Linda tidak suka dengan gurunya itu?” tanya nenek. Mendengar itu Linda mengambil nafas panjang sebelum menjelaskan alasannya.
“Linda tidak menyukai guru itu, karena tabiatnya. Dia selalu saja mengomel dan memarahi kami jika salah satu dari kami melakukan kesalahan. Semua dari kami mendapatkan ocehan,” keluhnya.
“Tidak boleh begitu Linda,” ucap nenek lembut.
“Tapi nek, yang salah itu satu orang, tapi yang di marahi kami semua,” ucap Linda membela dirinya.

“Linda, sebelum Linda membenci perbuatan seseorang, Linda harus tau dulu , apa alasan dari apa yang seseorang itu lakukan. Mungkin saja guru Linda itu memarahi kalian semua hanya karena kesalahan satu orang dari kalian agar kalian belajar untuk mengingatkan satu sama lain. Jika …”

Cerpen "Nasehat Sang Nenek" - SR Tatiya Pen

  "Nasehat Sang Nenek"  oleh : SR Tatiya Pen Pagi yang cerah di hiasi dengan burung-burung yang beterbangan kesana kemari sambil...